Sabtu, 28 April 2012

Tentang Kami.. 4 wek-wek


 Kami adalah satu...

 Saat tawa dan saat bahagia..

 Kami selalu satu..

 Aku dan kamu bercita-cita satu..

 Karna cinta menyatukan kami untuk bersama

 Tak ada yang saling menyakiti..

Karena kami satu hati..

Tak ada yang mengkhianati..

Karena kami satu prinsip..

Aku adalah kamu..
 Dan kamu adalah aku..
 Satu jiwa, satu mata, satu hati..

4 wek-wek in Ar-rahmah..

Nani Suryani 10-01-1995
Iqlima Aulya M 17-02-1995
Aas Komalasari 30-04-1995
Jumaeroh 22-09-1995

Jumat, 27 April 2012

Tentang Hari Kemarin

kini tak ada lagi canda dan tawa mu. Dulu, kau yang selalu mengajaku tersenyum,
kini kau pergi setelah kau mambaca buku harianku,
Yang semuanya ku tuliskan tentang seluruh perasaan ku pada dirimu.sebenarnya aku malu setiapkali berpas-pasan bertemu 2 mata di gerbang sekolah itu. Tapi aku masih tetap menoleh ke arah mu, dan tersenyum, meski kau tau, senyuman ku itu penuh dengan perasaan malu.

Kini kau telah tersadar dari tidur mu yang panjang. Kau telah membuka lembaran demi lembaran kisah hidup ku. Jangan kau tanya ulang tentang apa yang ku tulis dibuku itu. Semuanya telah terbuka , dan semuanya telah kau baca, sekilas harian kisah hidup dan perasaan ku yang kini kerap ku sembunyikan. Terimkasih atas semuanya. ku harap senyuman terindah itu masih kau lontarkan pada hidupku...

26 April 2012

Ar-Rahmah

Rabu, 25 April 2012

Sunyi Dalam Sepi

25 April 2012, tepatnya pukul 21.18 wib. Aku menyendiri di pojok ruangan tanpa jendela. Aku merenung, dan aku tenggelam dalam sepi. 5 menit sebelum kejadian ini, kekasih ku menghubungi ku lewat ponsel. Awalnya aku menyambut suara nya dengan nada bahagia, tapi tak lama dari itu aku kesal dengan nada suaranya yang malah meledekku, seakan akan tak percaya bahwa aku melakukan sesuatu yang sakral.
Aku kesal dengan sikapnya.. dia bukannya meluluhkan parsaan ku yang kian naik darah, tapi dia malah menutup ponselnya dan tak mengucapkan salam sedikitpun..
sebenarnya aku marah, tapi ak tak mampu manahan marah ku sampai berjam jam..
aku pun menghubunginya kembali, tapi ia tak mengangkat telpon ku, akhirnya aku menghubunginya lewat sms, dan ia pun membalasnya.
kenapa harus seperti ini?
yang salah kan bukan aku,, tapi dia sendiri. aku kesal!

sebelum kejadian ini pun, aku diresahkan oleh audisi MC sejak tadi sore, aku tak yakin akan terpilih menjadi mc, karna apa? karna mereka selalu menyepelekan hal yang dianggapp spele.
sebenarnya aku bisa sukses, bahkan lebih sukses di atas mereka. aku akan tunjukan pada mereka, aku akan tunjukan pada dunia, bahwa aku akan menjadi orang yang lebih tinggi diatas mereka.. karna hal ini merupakan "kesunyian yang terpendam dalam sepi".

Selasa, 24 April 2012

Puisi "Hidupku Untuk Mu"

diatas lembaran ini..
ku tuliskan seluruh imajinasi ku..
tentang aku,
harapanku,
dan seluuh angan-angan ku..

kau ajarkan aku membaca dan menulis,
saat tangan ku gemetar dan sulit untuk menuliskan arti kehidupan
kau mengajarkan aku kesabaran, 
saat aku tak memahami keadaan mu yang sekarang ini..
kau ajarkan aku bercerita
saat mulut ku tak mampu berbicara,,

kau memberiku motifasi untuk belajar memahami kehidupan,,
kau memberiku inspirasi untuk membuka lembaran hidup ku yang baru,

aku rapuh...
aku jatuh...
dan aku... hilang ditelan alam..

aku ingin kau membaca seluruh fikiran ku,
tapi kau tak mampu melihatnya,,
aku ingin kau melukis kehidupanku,
tapi kau tak mampu menggambarkannya..

bangkitkan hidupku lagi..
aku ingin kau ada disini,,
mengajari aku untuk sabar,,
memahami aku untuk belajar 
mengarungi hidup yang penuh dengan rintangan


Jangan Jadi Mie


by: Akbar Istiqlal

Sebuah frase kata yang begitu lumrah dimata semua insani. Tak ada titik manapun yang tak tertuju pada satu sisi yang sangat menarik perhatian semua jiwa. Tapi kelumrahan itu mahal dan tak diperjual belikan di toserba manapun, juga tak ada kata "inflasi" pada sisi yang menarik ini.
Jikalau seorang petinjau ingin menitik beratkan pada satu kata ini pastilah ia takkan salah. Atau seorang penyanyi yang suaranya tidak habis-habisnya untuk di perdengarkan pun, pastilah akan menoleh ke sudut luar diujung kubus sana, yang banyak dibicarakan tapi tak realitakan. Hanya jeritan jeritan manis manis yang tak kuasa mengekspresikan bidang ini seluruh hulu dunia menitik beratkan hanya pada satu kata "SUKSES".

Suara bising rel kereta yang terdengar decitan remnya mengingatkan saya pada satu hal di depan sana. semua kemasan produk makanan instan seperti halnya laju kereta, dengan mudahya dia  mengeluakan asap tanpa henti dan semaunya, dimanapun kapan pun tak pernah memikirkan asal muasal asap ari cerobong kereta itu berasal dari mana? Asalkan penumpangnya sampai ke tempat tujuan, selesai. Padahal ketika kita lihat di ujung sana mereka hanya di sibukan untuk mengeluarkan keringat dari jerih payahnya menebangkan pohon untuk dijadikan bahan bakar kereta api yang akhirnya mneghasilkan asap tersebut. Tapi  mereka instan saja tak memikirkan apapun proses berat untuk melaluinya.

Begitu pula dengan tulisan depan disemua produk yang berkemasan dan hal yang paling saya anggap menjengkelkan setiap saat kata itu merusak fikiran saya dan merusak otak serta memotifasi tinggi pada setiap insan muda, yaitu "INSTAN".

Tak seperti biasanya hujan pun turun begitu derasnya dan mengingatkan diri saya pada satu kejadian tepat pukul 09.00 malam, ketika suara "Wa'alaikumsalam" keluar dari mulut Pak Farhani, saat itu yang terbayang adalah keluar cepat ke asrama , setengah perjalanan saya melihat satu hal yang ganjil sekali, terlihat didepan mata saya, bondongan orang-orang yang sedang antri dan agak kisruh untuk mendapatkan semangkuk mie instan dari seorang rekan saya. Hanya dengan 2 kata itu pun kita bisa menikmatinya, entah sulap atau nyata, tapi itulah hidup.

Tinggal berberapa langkah lagi menuju kamar, kejadian tersebut terus mengiang-ngiang dimemory otak saya dan mengacak-acak pola fikir, serta merubah cara pandang diri saya terhadap hal tersebut, dan menambah gila instan semua orang yang saat itu sedang menikmatinya.

Alhasil, 2 kejadian itulah yang sangat bertolak belakang, padahal kejadiannya yang dialami persis sama, tak beda sedikit pun, tapi jauh berbeda pada hasilnya. Itulah gunanya Jurnalis.

"MELIHAT HAL LUMRAH JADI GA MURAH"

Singkat cerita, suara decitan rem pada malam itu dan gemerlap asap dari cerbong kereta juga bungkus depan kemasan itu sangat berarti bagi diri saya, sehingga saya bisa menulis ini semuanya dengan sedikit tak banyak. Mulai dari sekarang Iqlima Aulya Malik  jangan pernah jadi mie. :)

22 April 2012 (00.07)