by: Akbar Istiqlal
Sebuah frase kata yang begitu lumrah dimata semua insani. Tak ada titik manapun yang tak tertuju pada satu sisi yang sangat menarik perhatian semua jiwa. Tapi kelumrahan itu mahal dan tak diperjual belikan di toserba manapun, juga tak ada kata "inflasi" pada sisi yang menarik ini.
Jikalau seorang petinjau ingin menitik beratkan pada satu kata ini pastilah ia takkan salah. Atau seorang penyanyi yang suaranya tidak habis-habisnya untuk di perdengarkan pun, pastilah akan menoleh ke sudut luar diujung kubus sana, yang banyak dibicarakan tapi tak realitakan. Hanya jeritan jeritan manis manis yang tak kuasa mengekspresikan bidang ini seluruh hulu dunia menitik beratkan hanya pada satu kata "SUKSES".
Suara bising rel kereta yang terdengar decitan remnya mengingatkan saya pada satu hal di depan sana. semua kemasan produk makanan instan seperti halnya laju kereta, dengan mudahya dia mengeluakan asap tanpa henti dan semaunya, dimanapun kapan pun tak pernah memikirkan asal muasal asap ari cerobong kereta itu berasal dari mana? Asalkan penumpangnya sampai ke tempat tujuan, selesai. Padahal ketika kita lihat di ujung sana mereka hanya di sibukan untuk mengeluarkan keringat dari jerih payahnya menebangkan pohon untuk dijadikan bahan bakar kereta api yang akhirnya mneghasilkan asap tersebut. Tapi mereka instan saja tak memikirkan apapun proses berat untuk melaluinya.
Begitu pula dengan tulisan depan disemua produk yang berkemasan dan hal yang paling saya anggap menjengkelkan setiap saat kata itu merusak fikiran saya dan merusak otak serta memotifasi tinggi pada setiap insan muda, yaitu "INSTAN".
Tak seperti biasanya hujan pun turun begitu derasnya dan mengingatkan diri saya pada satu kejadian tepat pukul 09.00 malam, ketika suara "Wa'alaikumsalam" keluar dari mulut Pak Farhani, saat itu yang terbayang adalah keluar cepat ke asrama , setengah perjalanan saya melihat satu hal yang ganjil sekali, terlihat didepan mata saya, bondongan orang-orang yang sedang antri dan agak kisruh untuk mendapatkan semangkuk mie instan dari seorang rekan saya. Hanya dengan 2 kata itu pun kita bisa menikmatinya, entah sulap atau nyata, tapi itulah hidup.
Tinggal berberapa langkah lagi menuju kamar, kejadian tersebut terus mengiang-ngiang dimemory otak saya dan mengacak-acak pola fikir, serta merubah cara pandang diri saya terhadap hal tersebut, dan menambah gila instan semua orang yang saat itu sedang menikmatinya.
Alhasil, 2 kejadian itulah yang sangat bertolak belakang, padahal kejadiannya yang dialami persis sama, tak beda sedikit pun, tapi jauh berbeda pada hasilnya. Itulah gunanya Jurnalis.
"MELIHAT HAL LUMRAH JADI GA MURAH"
Singkat cerita, suara decitan rem pada malam itu dan gemerlap asap dari cerbong kereta juga bungkus depan kemasan itu sangat berarti bagi diri saya, sehingga saya bisa menulis ini semuanya dengan sedikit tak banyak. Mulai dari sekarang Iqlima Aulya Malik jangan pernah jadi mie. :)
22 April 2012 (00.07)